KIRAB SYUKUR: MBANGUN KEKANCAN


Tahun ini, Keuskupan Agung Semarang memasuki usia 70 tahun. Usia ini bisa dikatakan masih cukup muda untuk perjalanan sebuah keuskupan. Tetapi, dalam usia yang relatif muda ini, banyak hal telah dicapai oleh Keuskupan Agung Semarang dalam perjalanannya untuk "njembaraken Kraton Dalem." Sepanjang tahun 2010 ini, seluruh umat diajak untuk melaksanakan berbagai kegiatan sebagai ungkapan syukur atas perjaianan dan perkembangan yang telah dicapai Gereja Keuskupan Agung Semarang.

Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Kedu pun turut ambil bagian dalam kegiatan Tahun Syukur Keuskupan Agung Semarang. Keterlibatan OMK Kedu diungkapkan dengan Kirab Syukur, yang menjadi media ekspresi syukur kaum muda Kedu. Bentuk ekspresi dapat bermacam-macam. Namun, satu hal yang dibawa dalam kirab tersebut: kesadaran bahwa Keuskupan Agung Semarang menjadi seperti sekarang ini karena adanya proses yang panjang.

Dalam rangka mengekspresikan rasa syukur ini, salah satu fenomena menarik adalah kesadaran bahwa secara historis Gereja di Kevikepan Kedu memiliki peran yang cukup besar dalam perkembangan Keuskupan Agung Semarang. Peran ini mula-mula ditunjukkan oleh Rama Van Lith yang memulai karyanya di Muntilan pada 17 Mei 1894. Semangat kepeloporan Rama Van Lith nampak pada kepeduliannya terhadap pendidikan bagi kaum pribumi, yang pada zaman itu menjadi bangsa yang terbelakang karena terbatasnya kesempatan bersekolah. Dari sekoiah yang didirikannya (kini SMA Pangudi Luhur Van Lith) lahirlah tokoh-tokoh bangsa yang patut dibanggakan antara lain Mgr. Soegijopranoto, SJ yang merupakan uskup pribumi pertama serta memiliki peran cukup besar dalam perjaianan mencapai kemerdekaan negara Indonesia. Selain itu tercatat nama-nama lain misalnya IJ. Kasimo, Frans Seda, RAJ Sudjasmin, dan lain-lain, baik tokoh di lingkungan Gereja maupun masyarakat/negara.

Peran besar Rama Van Lith tak dapat dilepaskan dari mereka yang menyediakan diri untuk dididik, yaitu kaum pribumi yang sadar dan peduli akan perbaikan nasib bangsa, Di antara mereka adalah para petani. Kelompok masyarakat petani (pada zaman itu) merupakan kelompok masyarakat terbesar di samping buruh dan pedagang. Hal ini tidak mengherankan karena wilayah Kedu diapit lima gunung dan tanahnya subur.

OMK Kedu tidak ingin terlepas dari ikatan sejarah tersebut. Keinginan untuk terus terlibat dalam perjalanan sejarah ini muncul bersamaan debgab kesadaran bahwa kaum petani kini kurang mendapat perhatian, dan profesi sebagai petani kurang populer di masyarakat (bahkan terkesan direndahkan karena identik dengan kotor, dekil, dan kubangan lumpur). Ironisnya, sebagai penanggungjawab utama ketersediaan pangan bagi rakyat, petani dibuat tak berdaya untuk menentukan harga. Jerih payah mereka nyaris tanpa imbalan sehingga petani Indonesia relatif miskin dibanding petani di negara lain.

Karena itu, dalam rangka Tahun Syukur ini, kirab yang diadakan OMK Kedu selain sebagai ekspresi kebanggaan dan kecintaan mereka terhadap dunia pertanian dan para petani, juga ingin mengajak seluruh umat untuk semakin menghargai profesi petani dan peduli atas nasib para petani. Penghargaan dan kepedulian ini didasari kesadaran bahwa sumbangan para petani kepada umat manusia sangatlah besar. Dan untuk mewujudkannya, kaum muda Kedu mengajak seluruh umat menjadi sahabat bagi petani. Menjadi sahabat bukan berarti menjadi petani, atau mengharuskan kaum muda maupun setiap orang menjadi petani. Persahabatan ini dapat ditunjukkan dengan menghargai dan memberi perhatian kepada para petani, serta terlibat dalam gerakan-gerakan yang diadakan demi perbaikan nasib petani.

Dalam kerangka itu, ekspresi yang dibuat adalah kreativitas dari masing-masing OMK Paroki se-Kevikepan Kedu. Namun, di tengah rangkaian kebebasan ekspresi tersebut, ada satu ekspresi yang mengikat yaitu tulisan Kitab Suci. Mengapa Kitab Suci? Karena Kitab Suci adalah acuan iman, sumber inspirasi dan peneguhan bagi umat yang seialu menyandarkan hidup dan harapan kepada-Nya.

Pada Kirab Syukur kali ini dipilih Injil Lukas, karena di dalamnya terdapat pewartaan kabar gembira bagi yang lemah, miskin, dan tersingkir. Dalam Injil Lukas pula diceritakan bagaimana para murid saling berbagi cerita daiam perjaianan menuju Emaus. Dari proses membaca, merenungkan dan menuliskan kembali Injil Lukas, kaum muda diharapkan semakin sadar akan panggilannya sebagai pewarta dan pelaku kabar gembira bagi mereka yang lemah dan menderita, serta dapat menjadi teman seperjaianan (kanca) petani dalam pergulatan dan perjuangan mereka.

Ditulis oleh: Rm. B. Singgih Guritno, Pr, Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Kedu.

Kitab Syukur akan berada di Paroki St. Antonius Muntilan dari tanggal 19 Juni s.d. 3 Juli 2010.

Silakan tinggalkan komentar, kritik, atau saran Anda di sini. Kami akan segera membalasnya sesegera mungkin. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: