LAWANGSIH: GUA KELELAWAR YANG JADI GUA MARIA


Gua Maria LawangsihDalam rangka Bulan Maria, redaksi Buletin Jendela berziarah ke gua Maria ke Gua Maria Lawangsih di Nanggulan. Di sana, redaksi Jendela bertemu dan berbincang-bincang dengan Rama Ignatius Slamet Riyanto, Pr (Pastor Paroki SPM Nanggulan) dan Bp. Totok (seksi liturgi Stasi Pelemdukuh Paroki Nanggulan). Berikut cerita selengkapnya yang kami alirkan dalam profil Lawangsih di bawah ini:

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh yang membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY (Kabupaten Purworejo dan Kulonprogo). Di perbatasan dua kabupaten itulah, Bunda Maria Lawangsih bertahta. Letak tepatnya di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Secara gerejawi, Lawangsih masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelem Dukuh, Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Sendangsono jaraknya sekitar 20 km dan dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu sekitar 13 km. Sedangkan dari Muntilan jaraknya kira-kira 40 km, setidaknya itu menurut catatan speedometer kendaraan kami.

Dari Muntilan, Lawangsih bisa dicapai dari arah Sendangsono atau Jatiningsih (lewat Tempel). Pokoknya ketika sampai perempatan Kenteng, Anda belok kanan kalau dari arah Sendangsono atau lurus kalau dari arah Jatiningsih. Dari situ sudah banyak penunjuk jalan menuju gua yang mudah dilihat. Kalau Anda naik kendaraan umum, dari Perempatan Kenteng, Anda bisa naik ojek sekitar 25 menit. Jadi tidak perlu takut tersesat.

Jalan menuju ke gua umumnya dalam keadaan baik, hanya sedikit saja yang berlubang. Memasuki daerah perbukitan, jalan mulai naik turun. Namun, pemandangannya indah dan udaranya sejuk. Tidak rugi jika Anda berhenti sejenak dan mengagumi alam ciptaan-Nya di sepanjang perjalanan.

Jalan aspal ke kawasan gua masih baru dan sempit, hanya cukup untuk satu mobil. Tapi tidak perlu kuatir karena sudah diatur menjadi satu arah saja. Minibus masih bisa masuk, tapi kalau bus besar akan kesulitan karena tikungannya tajam, naik turun, dan lahan parkirnya masih terbatas.

Dari Gua Lawa Jadi Lawangsih

Gua Maria Lawangsih baru tahun lalu diresmikan. Nama Lawangsih yang berasal dari kata Lawang dalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang dan kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat.

Gua Maria Lawangsih adalah gua Maria alami kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Gua Maria Tritis di Gunungkidul. Daerahnya mirip dengan Sendangsono. Suasananya asri, sejuk, dan belum terlalu ramai sehingga nikmat untuk tempat doa. Belum banyak warung di sekitar tempat ziarah dan belum ada situs khusus untuk jalan salib.

Pembangunan Gua Maria Lawangsih menjadi tempat doa tidak lepas dari sepak terjang Rama Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan, Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Orangnya ramah, menyapa siapa saja yang ditemui di jalan, dan terlihat gesit. “Ini dia Rama dengan semangat badak,” kata Pak Totok memperkenalkan.

Awalnya Gua Maria Lawangsih merupakan sebuah lubang kecil di bawah gundukan besar batu dan semak. Di dalamnya terdapat gua yang dihuni kelelawar. Penduduk sekitar biasa menyebutnya Gua Lawa. Beberapa warga biasa mengumpulkan kotoran kelelawar dari gua itu untuk dijadikan pupuk.

Menurut Pak Totok, yang ramah dan bersedia diajak ngobrol lama, tanah tempat gua berada dulu milik warga Muslim. Beberapa tahun lalu dijual kepada Bp. T. Supino, Ketua Stasi SPM Fatima Pelem Dukuh, seharga 12 juta rupiah. Pada bulan Juli 2008, sebagian tanah dihibahkan kepada gereja untuk dijadikan tempat doa.

“Tanahnya luas sekali, sampai belakang-belakang sana,” kata Pak Totok menunjukkan. “Yang dihibahkan baru sebatas area gua dan kamar mandi. Itu batasnya. Besok kalau sudah berkembang baik, baru tanah yang dihibahkan lebih luas,” tambahnya.

Awal tahun 1990-an, Gua Lawa sempat dijadikan tempat doa Jalan Salib oleh Mudika Stasi Pelemdukuh. Namun selanjutnya tidak ada perkembangan berarti. Baru setelah tanah dihibahkan, inisiatif pengembangan tempat doa dimulai.

Mulanya Rama Slamet hanya ingin menjadikan tempat yang “dianggap keramat” oleh penduduk sekitar, menjadi tempat yang nyaman bagi umat untuk berdoa. Kerja keras umat di sana pun dimulai. Hampir satu tahun lamanya, Gua Lawa dibenahi tanpa bantuan alat-alat modern. Pintu masuk yang semula kecil diperbesar dengan membongkar batuan sebesar ±8m3. Untunglah ada sumbangan dari umat di Jakarta, sehingga pembangunan bisa berjalan lancar. “Tadinya mulut gua itu hanya kecil, paling hanya semeter, tapi kemudian dibongkar agar lebih luas,” jelas Pak Totok.

Hingga akhirnya pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Gua Lawa dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, dengan tempat dan peralatan seadanya. Baru pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Banyak umat bersama Rama Slamet tirakatan ketika itu, lèk-lèkan selama tiga hari berturut-turut. Nama Lawa tetap dipertahankan sebagai prasasti dan diubah sedikit menjadi Lawangsih. Dari cerita mulut ke mulut, akhirnya tempat ziarah ini mulai dikenal orang dari luar kota, bahkan beberapa kali tercatat dalam buku tamu pengunjung dari luar negeri datang berziarah.

Sebetulnya gua ini cukup besar. Di belakang patung Maria, terdapat lorong gua yang sangat panjang, dalam, dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang memesona. Di situ juga mengalir sumber air yang jernih dan sejuk. Namun sampai tulisan ini diturunkan, yang dibuka masih bagian depan dan samping dalam gua (tempat patung Yesus dan ruang doa).

“Sebetulnya di belakang patung itu masih panjang dan indah sekali. Tapi kalau mau masuk harus merangkak. Besok kalau bisa akan dikembangkan sehingga patungnya bisa diletakkan di dalam,” kata Rama Slamet sambil menunjukkan jalan masuk ke bagian dalam gua. Sekitar 300 meter setelah pintu gua, dinding menyempit. Padahal didalamnya terdapat tempat yang luas dan pemandangan yang sangat indah. Untuk membuka akses perlu alat modern.

Kalau Anda ingin suasana yang lain, Pak Totok memberikan tipsnya. “Kalau malam lebih bagus, Mas. Cahaya bulan dan lampu bisa masuk melalui lubang-lubang di gua, jadi terlihat lebih indah,” papar Pak Totok setengah promosi. Tapi mau menginap di mana? “Bisa menginap di gereja atau di rumah milik Suster,” jawab Pak Totok. “Gereja kami juga tak kalah indah, arsiteknya Rama Mangun,” lanjut Pak Totok.

Pengiloning Leres, Cikal Bakal Lawangsih

Menuruti saran Pak Totok, kami mampir juga ke gereja tersebut, yang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari gua. Arsitekturnya memang unik, bagian samping gereja ditutupi oleh tebing batu kapur alami. Informasi yang kami dapat, Rama Mangun pernah mereka-reka arsitektur gereja ini, tapi entah mengapa tidak diteruskan oleh Rama Mangun.

Di atas gereja ada bukit kecil. Di sana terdapat patung Kristus Raja Semesta Alam setinggi 3 meter karya Rama A. Tri Wahyono Pr. Di lihat dari bawah, bukit tersebut terlihat seperti bahtera dengan Yesus sebagai nahkodanya. Ada semacam rumah kecil di pojok tempat kita bisa beristirahat atau meneruskan ibadat.

Di belakang patung Kristus, ada gua alam kecil, Gua Maria Pengiloning Leres (Cermin Kebijaksanaan). Inilah cikal bakal Gua Maria Lawangsih. Menurut cerita warga di sana, bukit di Gua Pengiloning Leres ini adalah kandang Kuda Sembrani (Jawa: gedogan) karena di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda. Konon, banyak orang mendengar suara gaduh hampir setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Namun karena tempatnya agak terpencil, jalan naik turun, dan berada di tikungan, banyak orang melewatkan Gua Maria Pengiloning Leres. Padahal pemandangan dari Gua Maria Pengiloning Leres sangat indah karena letaknya tinggi. Belum lagi gerejanya yang unik dan dindingnya dihiasi dengan berbagai lukisan.

Hubungi Saya Kalau ke Lawangsih

Nah, setelah semua yang kami sampaikan, apa masih kurang? Dengan sekali jalan Anda bisa ziarah dan mungkin sekalian berwisata ke Waduk Sermo. Masih ingin tanya-tanya atau cari informasi misa? Silakan kunjungi situs guamarialawangsihnanggulan.blogspot.com, kirim surel ke guamarialawangsih.nanggulan@gmail.com, atau cari di facebook dengan alamat surel tersebut.

Anda juga bisa menghubungi Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. di Pastoran SPM Tak Bernoda Nanggulan dengan alamat Karang, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, kode pos 55671, telepon 0857 4371 7676. Seperti kata Rama Slamet ketika kami akan pulang, “besok kalau ke sini lagi hubungi saya ya!”. Selamat menikmati eksotisme Gua Maria Lawangsih. fib

Comments
One Response to “LAWANGSIH: GUA KELELAWAR YANG JADI GUA MARIA”
  1. -aY- mengatakan:

    nice info nie…
    pengen kesana

Silakan tinggalkan komentar, kritik, atau saran Anda di sini. Kami akan segera membalasnya sesegera mungkin. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: