BERSAMA KAUM MUDA MEMAHAMI DAN MENGHAYATI EKARISTI


Tulisan berikut diambil dari panduan misa mulai Minggu Paskah V, 10 Mei 2009 sampai dengan Hari Raya Pantekosta, 31 Mei 2009. Ditulis dalam rangka Bulan Katekese Liturgi 2009. Mengingat pentingnya pengetahuan liturgi bagi umat, Buletin Jendela mengumpulkannya menjadi satu tulisan yang lengkap dari ritus pembuka, sabda, Ekaristi, sampai penutup. Nah, mari semuanya memahami dan menghayati Ekaristi bersama-sama.

Tata Perayaan Ekaristi

Sebagaimana diatur dalam Pedoman Umum Misale Romanum, Struktur Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya berhubungan begitu erat satu sama Iain sehingga merupakan satu tindak ibadat. Dalam Perayaan Ekaristi, sabda Allah dihidangkan untuk menjadi pengajaran bagi semua orang beriman dan tubuh Kristus dihidangkan untuk menjadi makanan bagi mereka. Perayaan Ekaristi itu dibuka dengan Ritus Pembuka dan diakhiri dengan Ritus Penutup.

Struktur Perayaan Ekaristi:

  1. Ritus Pembuka
  2. Liturgi Sabda
  3. Liturgi Ekaristi
  4. Ritus Penutup

Struktur ini sudah baku dan tidak bisa dibolak-balik sebab urutan itu memiliki dasar liturgisnya.

Ritus Pembuka

a. Unsur-unsur Ritus Pembuka:

  • Perarakan masuk; para petugas liturgi masuk diiringi nyanyian pembuka. Tujuan nyanyian adalah untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk ke misteri masa liturgi dan mengiringi perarakan.
  • Penghormatan altar dan salam oleh imam. Salam di satu sisi mengungkapkan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat dan di sisi lain memperlihatkan tanggapan umat yang berkumpul.
  • Ordinarium: Tuhan Kasihanilah Kami, didaraskan atau dinyanyikan untuk mengung­kapkan seruan kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya, Kemuliaan: menjadi madah umat untuk memuji Allah Bapa, dan Anak Domba Allah. Kemuliaan dilagukan/diucapkan pada hari raya, perayaan meriah dan hari Minggu (kecuali adven dan prapaskah).
  • Doa pembuka: Sebelum doa diucapkan ada saat hening untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Lalu imam membuka doa yang mengandung inti perayaan liturgi yang dirayakan dan menutup dengan rumusan trinitaris. Doa pembuka disebut doa collecta dan presidensial. Doa collecta berarti kumpulan dari doa-doa yang diungkapkan oleh umat pada saat hening yang kemudian diteruskan oleh imam. Karena hanya imam yang mendoakan doa pembuka itu, maka doa pembuka juga disebut doa presidensial, yaitu doa resmi dan publik yang dibawakan oleh pemimpin atas nama seluruh umat. Dalam doa ini, umat tidak diikutsertakan untuk mengucapkannya. Umat hanya menjawab “amin” setelah imam mengakhiri doanya dengan doa trinitaris, yaitu doa yang diarahkan kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Putra dalam Roh Kudus.

b. Tujuan dari Ritus Pembuka:

  • Ritus pembuka dalam keseluruhan Perayaan Ekaristi menjadi pembuka, pengantar dan persiapan.
  • Semua unsur yang ada dalam bagian ini berfungsi mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka supaya mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.

c. Tata Gerak:

Perlu diketahui pada bagian tata gerak, masing-masing keuskupan mungkin ada perbedaan sebab bagian ini diserahkan pada kebijakan keuskupan dengan tetap memperhatikan tujuan dari tata gerak itu, yaitu untuk mengungkapkan penghormatan kepada Tuhan yang lebih pantas. Pada ritus pembuka ini, tata gerak yang terjadi:

  • Umat berdiri: yaitu pada saat arak-arakan sampai salam; kemuliaan sampai doa pembuka.
  • Umat duduk/berlutut: yaitu pada saat pengantar sampai Tuhan kasihanilah kami.

Liturgi Sabda

a. Unsur-unsur dalam Liturgi Sabda:

  • Bacaan I: dari Kitab suci dan dibacakan oleh seorang lektor dengan suara lantang, dengan ucapan jelas, pembawaan pantas dan penghayatan yang mendalam.
  • Mazmur tanggapan: dipilih sesuai dengan bacaan yang bersangkutan, dianjurkan untuk dilagukan, terutama bagian refren. Fungsi mazmur untuk menopang permenungan atas sabda Allah.
  • Bacaan II: dari Kitab Suci dan dibacakan oleh seorang lektor seperti bacaan I. Kalau ada alasan yang berat, bacaan II bisa ditiadakan.
  • Bait Pengantar Injil: bait pengantar Injil wajib dinyanyikan, bila tidak dinyanyikan, lebih baik dihilangkan. Tujuan Bait Pengantar Injil adalah untuk menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda dalam Injil dan sekaligus menyatakan iman umat.
  • Homili: yang memberikan adalah imam, pemimpin perayaan (tidak pernah oleh awam). Pada hari Minggu dan pesta, wajib ada homili. Tujuan dari homili adalah untuk memupuk semangat hidup kristen dengan menjelaskan bacaan-bacaan atau teks lain yang berhu-bungan dengan misteri yang dirayakan.
  • Pernyataan Iman: mendoakan atau melagukan syahadat. Tujuannya agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dan dijelaskan dalam homili.
  • Doa Umat: doa umat dibacakan oleh lektor/petugas untuk menyatakan permohonan atas keselamatan dan permohonan untuk mengamalkan tugas imamat yang mereka terima melalui baptis. Imam bertugas membuka dan menutup doa umat. Tujuan doa umat adalah sebagai tanggapan umat atas sabda Allah yang mereka terima dengan penuh iman. Umumnya doa itu berisi doa untuk keperluan Gereja, penguasa negara dan keselamatan seluruh dunia, untuk orang yang menderita dan untuk umat setempat atau kepentingannya sesuai dengan misteri yang dirayakan.

b. Tujuan:

  • Tujuan dari liturgi sabda adalah untuk menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani melalui sabda yang diwartakan. Bagian ini juga boleh disebut sebagai bagian pengajaran akan sabda Tuhan.
  • Lewat liturgi sabda ini, umat merasakan kehadiran Tuhan, meresapkan dalam keheningan dan nyanyian dan mengimani dalam syahadat serta mengungkapkan pengharapannya dalam doa umat.
  • Pernyataan iman rasuli dipakai dalam perayaan Ekaristi dengan maksud agar umat yang berhimpun dalam perayaan Ekaristi dapat me­nanggapi sabda Tuhan yang telah dimaklumkan dari Kitab Suci dan dijelaskan dalam homili. Dengan pernyataan iman itu, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri iman sebelum mereka merayakannya dalam liturgi Ekaristi.

c. Tata Gerak:

  • Umat duduk: pada saat mendengarkan bacaan I, II, menanggapi sabda melalui nyanyian mazmur dan saat mendengarkan homili.
  • Umat berdiri: pada saat menyanyikan bait pengantar Injil, mendengarkan Injil, dan mengucapkan pernyataan iman (syahadat para rasul) dan doa umat.

Liturgi Ekaristi

a. Unsur-unsur dalam Liturgi Ekaristi

  • Persiapan Persembahan: kolekte dan bahan persembahan yaitu roti dan anggur dibawa ke altar. Perarakan persembahan diiringi dengan nyanyian persiapan persembahan sampai semua bahan tertata di atas altar, Dilanjutkan pendupaan terhadap roti dan anggur, salib dan altar. Pendupaan melambangkan persembahan dan doa Gereja yang naik ke hadirat Tuhan. Imam dan umat juga didupai untuk menegaskan martabat luhur mereka.
  • Doa Persiapan Persembahan: Imam mengundang umat untuk berdoa dan diakhiri dengan doa persiapan persembahan yang bersifat presidensial.
  • Doa Syukur Agung: merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi, yang berisi doa syukur dan pengudusan, Dalam doa ini seluruh umat menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan korban.
  • Doa Bapa Kami: imam bersama umat berdoa Bapa Kami mohon rezeki, pengampunan dosa dan dibebaskan dari segala kejahatan.
  • Doa dan Salam Damai: memohon damai dan kesatuan Gereja dan seluruh umat manusia, sebelum akhirnya kesatuan itu disempurnakan dengan Tubuh Kristus. Diungkapkan dengan saling memberi salam dengan orang terdekat.
  • Pemecahan roti: imam memecahkan roti sebagai simbol umat yang banyak menjadi satu karena menyambut satu roti yaitu Kristus sendiri. Pemecahan roti ini diiringi dengan nyanyian/darasan Anak Domba.
  • Komuni: umat ambil bagian dalam komuni sebagai tanda keikutsertaan umat dalam korban Kristus yang dirayakan. Sementara itu dinyanyikan nyanyian komuni agar umat secara batin bersatu dalam komuni, secara lahir bersatu dalam nyanyian; untuk menunjukkan kegembiraan hati dan menggaris bawahi perarakan komuni.
  • Doa Sesudah Komuni: Imam berdoa presiden­sial untuk menyempurnakan permohonan umatsekaligus untuk menutup seluruh ritus komuni sambil mohon agar misteri yang telah dirayakan menghasilkan buah.

b. Tujuan

  • Bagian ini bertujuan untuk menghadirkan korban salib dalam Gereja untuk menyatakan karya penyelamatan dan penebusan.
  • Umat mengambil bagian dalam korban salib Kristus dengan menyambut tubuh Kristus.

c. Tata Gerak:

  • Umat berdiri pada saat prefasi sampai Kudus; Bapa Kami, dan Salam Damai.
  • Umat duduk pada saat pemecahan roti, sesudah komuni, dan doa sesudah komuni.
  • Umat duduk/berlutut/berdiri pada saat Doa Syukur Agung dan pemecahan roti.

Ritus Penutup

a. Unsur

  • Pengumuman: mengumumkan hal yang berhubungan dengan kepentingan jemaat seluruhnya, terutama pengumuman perkawinan.
  • Salam dan Berkat Imam: Imam memberkati dengan berkat biasa atau meriah.
  • Pengutusan: umat diutus untuk menjadi pewarta kabar gembira.
  • Penghormatan altar: mencium altar dan meninggalkan altar.
  • Perarakan ke sakristi: bersama seluruh petugas liturgi, imam kembali ke sakristi, dengan diiringi lagu penutup.

b. Tujuan:

Bagian ini menutup seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi dan sekaligus membuka tugas perutusan untuk mewartakan kabar gembira. Semua umat diutus agar rahmat yang telah diterima dalam Perayaan Ekaristi dibagikan pula kepada semua umat yang dijumpai melalui kesaksian hidup sehari-hari.

c. Tata Gerak

  • Umat duduk pada saat mendengarkan pengumuman.
  • Berdiri/berlutut pada saat menerima berkat, pengutusan dan berdiri saat prosesi perarakan petugas liturgi ke sakristi.
Partisipasi Sadar dan Aktif dalam Ekaristi

Partisipasi secara sadar dan aktif dalam Ekaristi menegaskan aspek PEMAHAMAN (akal budi) dan KETERLIBATAN (hati) semua umat beriman. Pemahaman menegaskan sisi pengetahuan, di mana semua umat beriman bisa memahami liturgi yang mereka rayakan. Sedangkan keterlibatan menunjuk soal hati, yaitu hati yang terlibat secara penuh dalam liturgi.

Pemahaman terhadap Ekaristi sangatlah perlu. Orang terlibat tidak hanya terlibat tetapi didasari dengan pemahaman. Hal-hal yang perlu diketahui menyangkut Perayaan Ekaristi adalah misteri yang dirayakan, segala bahan dan alat yang digunakan, warna liturgi yang sedang terjadi.

Keterlibatan dalam Ekaristi disesuaikan dengan perannya masing-masing dan tata gerak dalam perayaan Ekaristi. Hendaknya umat bisa terlibat secara aktif demi mendukung perayaan dan makna yang sedang dirayakan. Paus Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei (1947) merinci partisipasi dalam tiga hal:

  1. partisipasi batin atau penghayatan pribadi;
  2. partisipasi lahir, yaitu turut bernyanyi, berdoa, atau bersikap tertentu;
  3. partisipasi sakramental (komuni).
Comments
One Response to “BERSAMA KAUM MUDA MEMAHAMI DAN MENGHAYATI EKARISTI”
  1. pactorembang mengatakan:

    Artikelnya sangat menarik. Tks.
    Di parokiku kaum mudanya (= remaja) kurang tertarik untuk terlibat 100% dalam (liturgi) ekaristi. Mungkin orangtua mereka kurang serius dalam mendampingi putra/inya dalam ber-ekaristi. Mereka lebih suka ikut misa di luar (gedung) gereja padahal masih ada tempat di dalam. Kalo pun mereka ada di dalam gereja, lebih suka untuk omong sendiri daripada mendengarkan sabda Tuhan. Yach, tugas bersama semua umat di parokiku. Tuhan, buatlah agar kami mencintai Ekaristi-Mu yang suci agar menjadi kekuatan bagi kami dalam mengarungi hidup di dunia. Amin. Terima kasih Tuhan.

Silakan tinggalkan komentar, kritik, atau saran Anda di sini. Kami akan segera membalasnya sesegera mungkin. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: