Hujan, Percikan Air dari Allah


Perayaan Ekaristi Kaum Muda se-Kevikepan Kedu diwarnai hujan deras.

EKM Sendang Sono 2009 Air sungai itu mengalir tenang. Warnanya tampak jelas sangat keruh karena disinari lampu temaram. Di tempat itu salib “Rangkul Tanah dan Jiwaku” sepanjang tiga meter –terbuat dari kayu cengkih, kina, dan suhur pohon sono dari Pegunungan Menoreh, Gunung Merapi dan Sendang Sono – dibaringkan laiknya sampah. Hal itu memiliki arti bahwa “Allah yang sungguh luar biasa baik rela menjadi manusia serta mengangkat manusia dari kubangan dosa”. Salib dengan tatal kayu yang menggambarkan kepingan kaum muda dengan segala rupa mau terlibat dan mengumpulkan diri membentuk tubuh Kristus.

Telihat pemandangan yang sangat berbeda ketika melihat sisi timur. Lampu kelap-kelip berdekorasi alami menghiasi altar yang di-setting di tempat yang tidak biasa itu, semakin menyemarakkan malam ekasisti kaum muda di Sendang Sono, Sabtu (30/5) jam 19.00. Misa kaum muda yang diprakarsai oleh FKKMK Kedu dan bertemakan “Daun Pengharapan” ini merupakan puncak dari Bulan Katekese Liturgi yang telah dilaksanakan selama 1 bulan.

Misa dibuka oleh lima orang penari cantik di atas jembatan, menyambut datangnya para pastor konselebran. Pastor-pastor itu antara lain Mgr. Ignatius Suharyo, Pr (Uskup Agung Semarang); Rm. H. Suprihadi, Pr (Moderator Kepemudaan Kedu); Rm. Endro Wijayanto, Pr (K3AS); Rm. Banu Kurnianto (Moderator Kepemudaan DIY); Rm. Witokaryono, Pr (Ketua Komisi Liturgi Kevikepan DIY) dan Rm. Ag. Ariawan, Pr (Pastor Kepala Promasan).

Saat misa dimulai, lebih dari lima ribu umat tampak terkejut tatkala tiba-tiba hujan deras mengguyur. Mereka segera beranjak dari tempatnya. Ada yang langsung mengeluarkan payung atau jas hujan dan tetap berdiri di tempatnya, atau berlari ke tempat yang teduh. Dengan ditudungi payung, Bapak Uskup pun memberkati salib yang ditempatkan di sungai. Kemudian naik ke altar. Prosesi pemercikan air suci pada seluruh umat pun gagal karena hujan.

“Hujan, berarti Allah sendiri yang memerciki air suci,” ungkap Rm. Ariawan, Pr.

Berbagai performance art dari perwakilan kaum muda se-Kevikepan Kedu tampil ketika salib Yesus diangkat dari sungai dan diarak ke depan altar. Dalam keremangan, umat diajak merenungkan bahwa Allah telah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus menjadi manusia. Dan dengan rendah hati, Ia rela menjadi tumpuan manusia agar terbebas dari dosa. Keselamatan dari Allah itu pun diilhami dengan memaknai Bulan Katekese Liturgi yang dikotbahkan oleh Uskup Agung Semarang.

“Dengan menghayati Ekaristi kita semua telah menjadi rabi ekaristi yang dipilih oleh Allah dan tidak ada hidup yang serba kebetulan/pilihan,” demikian pesan Bapak Uskup dalam homilinya.

Meski diguyur hujan, mereka tampak antusias mengikuti misa garapan kaum muda se-kevikepan kedu tersebut. Mereka rela berdiri agar tidak luput menyaksikan pertunjukan seni yang ditampilkan. Terlebih saat panitia membagikan salib kayu, mereka saling berebut, namun tetap tidak menimbulkan kekacauan. Demikian pula saat paduan suara menyanyikan lagu-lagu gereja dengan gaya pop, banyak kaum muda dengan bersemangat ikut bernyanyi. Lita & Soesi

Album foto

Silakan tinggalkan komentar, kritik, atau saran Anda di sini. Kami akan segera membalasnya sesegera mungkin. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: