Mengenal Bahaya NAPZA


Sekitar 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 3,2 juta jiwa sudah menjadi korban NAPZA. Diperkirakan setiap tahunnya ada 15.000 orang Indonesia meninggal dunia karena NAPZA. Jadi, rata-rata setiap harinya tak kurang dari 40 orang Indonesia meninggal akibat NAPZA.

Melihat fakta yang cukup memprihatinkan itu maka Komisi Pendampingan Keluarga Kevikepan Kedu (KPK KK) bekerja sama dengan Panitia HUT ke-115 Paroki St Antonius Muntilan, pada hari Minggu, 10 Mei 2009 mengadakan Seminar “Bahaya NAPZA”. Bertempat di aula paroki, seminar tersebut mengundang kaum muda Katolik dari berbagai paroki di Kevikepan Kedu.

Sebelumnya, perlu diketahui apa itu NAPZA? NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Dalam seminar tersebut dijelaskan mengapa NAPZA berbahaya sehingga perlu dilakukan penanggulangan terhadap penyalahgunaannya. Pada dasarnya semua obat adalah racun, yang jika dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan kesehatan bahkan dapat berakibat kematian. Demikian pula dengan obat-obatan atau zat yang bersifat adiktif atau menimbulkan ketagihan. Dalam keadaan ketagihan pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Baginya, tidak ada hal yang lebih penting daripada mendapatkan zat yang menyebabkan ia ketagihan.

Dalam seminar mengenai Bahaya NAPZA tersebut, panitia menggandeng AKP N. Indi Istadji dari kepolisian dan dr. M. Endang Dwi Lestari, Mkes sebagai narasumber. Pembicara pertama, Bapak N. Indi Istadji, Kasubbag Kesma bagian Binamitra Polresta Magelang, menjelaskan tentang NAPZA dengan melihatnya dari kacamata hukum. Salah satu penanggulangan narkoba adalah dengan penegakan hukum terhadap pengguna atau penyalahgunaan narkoba. Beliau memberikan penjelasan tentang perlindungan hukum terhadap bahaya NAPZA. Dengan menjabarkan beberapa pasal dalam undang-undang yang memuat tentang apa itu NAPZA dan berbagai jenis yang temasuk di dalamnya, diharapkan peserta menjadi tahu dan diajak untuk jangan pernah ingin menggunakannya. Karena selain merugikan kesehatan juga akan ada tindak hukum terhadap pelanggarannya, sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Beliau juga menjelaskan bahwa rokok termasuk dalam narkoba tingkat ringan. Diantaranya karena mengandung nikotin. Namun penjelasan menjadi sedikit ironis ketika Beliau mengakui bahwa dirinya sendiri adalah perokok berat.

Ibu dr. M. Endang Dwi Lestari, Mkes sebagai pembicara kedua, menjelaskan bahaya NAPZA dan bagaimana cara penanggulangannya. Tentunya sebagai pensiunan dokter, Beliau melihat bahaya NAPZA dari segi kesehatan. Sebelum membawakan materi yang ingin disampaikan, Beliau meminta bantuan salah seorang peserta untuk membacakan sebuah puisi tentang narkoba. Lewat puisi yang dibawakan dengan apik itu, dr. Endang (demikian Beliau biasa disebut) ingin mengajak kaum muda Katolik agar jangan sampai terjebak dalam ‘permainan yang mematikan’ itu, jangan sampai narkoba merampas hidupmu karena hidup adalah perutusan. Dari segi kesehatan, narkoba dapat mengganggu fungsi organ dalam tubuh, seperti rusaknya hati, kulit, melemahkan fungsi otak dan susunan syaraf pusat, pembengkakkan dan radang paru-paru, peradangan otot jantung dan penyempitan pembuluh darah, dan masih banyak hal merugikan yang didapat akibat konsumsi narkoba.

Tembakau dan alkohol adalah contoh dari zat adiktif diluar narkotika dan psikotropika. Menurut beliau, konsumsi rokok dan alkohol terutama pada remaja dapat menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA. Kopi yang mungkin sudah menjadi minuman favorit harian, dapat minimbulkan ketergantungan (adiktif) jika dikonsumsi melebihi 100mg/hari atau lebih dari dua cangkir kopi. Karena dalam kopi terdapat kafein, zat stimulansia, yang dapat menimbulkan ketergantungan psikologis.

Acara yang tercatat diikuti sekitar dari 120 kaum muda dan pendamping se-Kevikepan Kedu itu dimulai sekitar pukul 09.30 WIB. Laurensius Yudha Kristanto selaku ketua panitia kegiatan mengawali acara dengan mengelompokkan peserta berdasarkan warna ID card yang diterima sewaktu daftar ulang sebelum acara dimulai. Harapannya, agar masing-masing peserta dapat membaur bersama peserta dari paroki yang berbeda. Di tengah acara, Fr. Wahyudi, MSF, mengajak peserta dalam sebuah permainan yang cukup membuat gayeng suasana dan peserta pun menjadi lebih bersemangat. Dengan permainan yang dibawakan frater, peserta tidak terlalu tegang dan serius dalam mengikuti seminar.

“Di dalam diadakan seminar tentang Napza untuk orang muda tapi seperti Anda lihat, anak-anak muda justru di luar dan merokok,” demikian keprihatinan Bp. L. Sutikno yang kebetulan menengok seminar. Memang disayangkan, acara yang sudah susah payah dikemas sedemikian rupa kurang memenuhi target yang diharapkan. Seminar yang dapat memberikan wawasan mengenai bahaya NAPZA bagi kaum muda yang notabene identik dengan pergaulan bebas ini kurang mendapat respon. Tak banyak paroki yang mengirimkan kaum mudanya sebagai wakil dalam seminar tersebut. Beberapa hanya mengirimkan pendampingnya dan ada yang bahkan tidak mengirimkan perwakilan. Kondisi demikian juga menjadi keprihatinan seperti

Menurut Bapak Y.L. Supono, Tim KPK Kevikepan Kedu, seminar Bahaya NAPZA yang digelar di Muntilan itu merupakan satu dari tiga rangkaian acara yang telah diprogram untuk kaum muda di Kevikepan Kedu dalam rangka mengisi tahun kaum muda ini. Sebelumnya pada 5 Maret 2009 lalu telah diadakan seminar bertema “Komunikasi Kaum Muda dengan Orang Tua” bertempat di Paroki St. Ignatius Magelang. Rencananya, 10 September 2009 mendatang akan diselenggarakan acara serupa di Parakan dengan mengambil tema “Pewarisan nilai-nilai Kristiani”. Anda tertarik? Tunggu pengumumannya di gereja. woery

Comments
3 Responses to “Mengenal Bahaya NAPZA”
  1. Anonymous mengatakan:

    melihat fenomena bnynya kaum muda yg terjerat oleh narkoba dewasa ini, sy cm bisa ngelus dada…..
    Tmn2, jaga diri jgn smp narkoba merampas hidup qt. Yg rugi bkn hny anda melainkan jg Gereja dan bangsa qt. Say No to drugs!🙂

  2. buletinjendela mengatakan:

    Bapak YB. Margantoro (Pemimpin Redaksi Bernas), ketika memandu Pelatihan Jurnalistik Buletin Jendela, pernah mengatakan bahwa kebanyakan kasus kriminil yang dilakukan orang Katolik itu berhubungan dengan narkoba. Melihat dari kasus-kasus yang ada memang sepertinya benar. Mengapa demikian?

  3. mohammad irfan iskandar mengatakan:

    sangat bagus untuk di sosialisasikan di tiap-tiap sekolah.

Silakan tinggalkan komentar, kritik, atau saran Anda di sini. Kami akan segera membalasnya sesegera mungkin. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: